Rabu, 25 April 2012

PENSTRUKTURAN KP, PERTANYAAN TERBUKA DAN KERUNTUTAN DALAM KONSELING“


A.    Penstrukturan KP
Keberhasilan konseling banyak ditentukan oleh keefektifan konselor dalam menggunakan berbagai teknik. Hubungan antara konselor dan klien merupakan inti proses konseling dan psikoterapi oleh karena itu para konselor hendaknya menguasai berbagai teknik dalam menciptakan hubungan. Terdapat tahap-tahap dalam proses konseling,  yaitu antara lain:
1.      Teknik Pembukaan (Pengantaran/ introdaktion)
Yaitu usaha konselor untuk mengantarkan klien dalam memasuki proses konseling. Dalam teknik pembukaan ini konselor memberikan penjelasan kepada klien tentang konseling dan psikoterapi, tujuan, asas-asas, manfaat serta hal lain yang berhubungan dengan proses konseling dan psikoterapi.
2.      Teknik hubungan Refleksi
Refleksi perasaan  merupakan suatu usaha konselor untuk menyatakan dalam bentuk kata-kata yang segar dan sikap yang esensial (perlu). Refleksi ini merupakan teknik penengah yang bermanfaat untuk digunakan setelah hubungan permulaan dibuat dan sebelum pemberian informasi dan tahap interpretasi dimulai. Perasaan-perasaan yang diekspresikan dapat dikelompokkan kedalam tiga kategori yaitu yang positif, negative, dan ambivalen.
Refleksi perasaan akan mengalami kesulitan jika:
a)      Stereotip dari konselor
b)      Konselor tidak dapat mengatur waktu
c)       Konselor tidak tepat memilih perasaan
d)     Konselor tidak mengetahui isi perasaan yang direfleksikan
e)      Konselor tidak dapat menemukan ke dalam perasaan
f)       Konselor menambah arti perasaan
Manfaat refleksi perasaan dalam proses konseling dan:
1.      Membantu individu untuk merasa dipahami secara mendalam
2.      Klien merasa bahwa perasaan menyebabkan tingkah laku
3.      Memusatkan evaluasi pada klien
4.       Member kekuatan untuk memilih
5.       Memperjelas cara berfikir klien
6.      Menguji kedalaman motif-motif klien

3.       Teknik Penerimaan dan Penstrukturan
Teknik penerimaan merupakan cara bagaimana konselor melakukan tindakan agar klien merasa diterima dalam proses konseling. Dalam teknik penerimaan, ada 3 unsur yaitu antara lain: 1) ekspresi air muka, 2) tekanan suara, 3) jarak dan perawakan.
Teknik penstrukturan (structuring) adalah proses menetapkan batasan oleh konselor tentang hakekat, batasan-batasan dan tujuan proses konseling pada umumnya, dan hubungan tertentu pada khususnya. Menata stuktur akan memberikan kerangka kerja atau orientasi terapi kepada klien. Struktur konseling mempunyai dua unsure yaitu, pertama, unsure implicit dimana peranan konselor yang secara umum diketahui klien, dan yang kedua, yaitu struktur yng formal berupa pernyataan konselor untuk menjelaskan dan membatasi proses konseling.
Dengan demikian  structuring merupakan teknik merumuskan batasan dan potensialitas konseling. Berdasarkan pembatasan dan potensi proses konseling ada 5 macam struktur:

a)      Batas-batas waktu baik dalam satu individu maupun seluruh proses konseling
b)      Batas-batas tindakan baik konselor maupun klien
c)      Batas-batas peranan konselor
d)     Batas-batas proses atau prosedur
e)      Structuring dalam nilai proses

4.      Teknik Mendengarkan
Mendengarkan merupakan dasar bagi semua wawancara. Kegiatan ini menghendaki agar penyuluh lebih banyak diam dan menggunakan semua indranya untuk menanggap semua pesan. Dengan  telinganya konselor mendengarkan kata-kata yang diucapkan dan tekanan suara dari klien; dengan pikirannnya dia menanghkap isi pesan yang disampaikan, dan dengan matanya dia mengamati bahasa badani dalam sikap duduk, gerak gerik, isyarat dan sebaginya yang ditampilkan oleh klien. Konselor juga mendengarkan diri nya sendiri, dia mencatat tangapannya sendiri terhadap pesan yang diterima dari klien, dan bagaimana konselor  menyesuaikan diri terhadap pesan-pesan itu.
Mendengarkan  secara aktif dan tepat adalah amat penting selama wawancara berlangsung, lebih-lebih pada saat permulaan ketika konselor biasanya mengambil bagian secara verbal kurang aktif. Konselor berusaha secara benar-benar tepat penyesuaian dirinya dengan diri orang lain, memusatkan diri pada orang lain, dan menjadikan pesan-pesan yang datang dari oarng lain itu sebagai suatu yang amat penting.  

5.      Teknik Mengarahkan
Pemberian pengarahan mengubah  tekad hubungan konseling dan psikoterapi. Di sini konselor lebih berinisiatif dari pada klien. Dengan memberikan pengarahan, konselor merasa lebih terpanggil untuk diskusi dari pada klien, dan secara tidak langsung konselor mengetahui apa yang harus dilakukan. Pemberian pengarahan hanya dilakukan bila mana konselor benar-nenar telah memahami keadaan dan kebutuyhan klien. Nilai dari upaya pemberian pengarahan tidaklah diragukan ; namun konselor harus menentukan kapan cara ini tepat dilakukan, dan cara mana yang sebaiknya dipakai.
Ada akibat-akibat (yang kurang mengenakkan) tertentu yang berkaitan menggunakan pengarahan. Kebanyakan para pemberi bantuan telah cukup mengenal keterampilan ini sebelumnya. Oleh karena itu, terdapat kecendrungan untuk menggunakannya secara berlebih-lebihan atau cepat-cepat menggunakan cara ini dalam setiap suasana konseling dan psikoterapi yang sulit. Penggunaan pengarahan yang terlalu cepat atau terlalu sering terhadap klien yang enggan malhan dapat mengakibatkan timbulnya suasana risi(tidak tenang) aau menjngkelkan pada diri klien dan penyuluh tampak kurang peka terhadap suasana kejiwaan klien.

6.      Teknik mengakhiri proses konseling
Ketrampilan  mengakhiri wawancara konselng merupakan teknik hubungan dalam proses konseling. Mengakhiri wawancara, dapat dilkukan dengan cara:
a.        Mengatakan bahwa waktu sudah habis
b.       Merangkum isi pembicaraan
Merangkum adalah proses menyatukan semua yang dikomunikasikan selama proses konseling dengan menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti oleh klien.
c.        Menunjukan pada pertemuan yang akan datang dengan menanyakan “apa yang akan anda lakukan?”.
d.      Membuat catatan singkat.
Membuat catatan merupakan usaha sederhana tetapi sangat penting karena kegiatan ini mempunyai andil yang sangat besar dalam rencana pengubahan tingkah laku yang perlu dirubah.
e.       Memberikan tugas-tugas tertentu
f.       Mendoakan klien semoga tetap bahagia
g.      Berdiri
h.      Perpisahan dengan berjabatan tangan.


B.     Pertanyaan terbuka
Pertanyaan terbuka  merupakan respon konselor dalam kalimat tanya yang yang menuntut klien memberikan penjelasan yang panjang dan banyak..Pertanyaan terbuka dapat membantu konselor dalam penggalian masalah dan penjelajahan masalah. Melalui pertanyaan terbuka konselor bisa mendapatkan informasi yang dibutuhkan dalam pemecahan masalah, sehingga konselor dapat membimbing klien kea rah yang lebih tepat. Selama proses konseling hendaknya konselor selalu menggunakan pertanyaan terbuka dan menghindari pertanyaan tertutup. Pertanyaan tertutup digunakan hanya dalam kondisi yang betul-betul diperlukan.
Pertanyaan terbuka mengajak klien untuk meneruskan pertanyaannya dengan memberikan lebih banyak uraiannya mengenal hal yang telah di kemukakanya. Misalnya terhadap uraian yang telah di berikan oleh seorang ibu yang putus asa karena ulah anaknya yang kecanduan narkoba, konselor bertanya :
“Bagaimana perasaan ibu ketika melihat dia benar-benar  kecanduan obat terlarang itu?”
Pertanyaan terbuka seperti itu penting, terutama pada tahap awal wawancara. Pertanyan-pertanyaan terbuka lainya dapat di lakukan dengan mengunakan kata Tanya: apa, kapan, dan bagaimana. Pertanyaan terbuka seperti itu akan menghasilkan  jawaban yang dapat di jadikan arah  atau informasi yang berguna untuk mengadakan tindak lanjut, dan juga memungkinkan suasana percakapan dapat berlangsung dangan baik. Hal ini juga menunjukan  pada klien bahwa ia bebas untuk  mengemukakan  isi pembicaraan sesuai apa yang di inginkan.
Sebaliknya pertanyaan tertutup akan cendrung menutup percakapan dengan hal menjawab pertanyan itu dengan jawaban  “ya” atau “ tidak” saja. Meskipun konselor, katakanlah terpaksa menggunakan pertanyaan tertutup, sebaiknya segera diikuti dengan pertanyaan terbuka, contoh: Anda betul-betul mencintainya? Atau bagaimana?. Pertanyaan terbuka tanpa didahului oleh pertanyaan tertutup misalnya: Bagaimana perasaan anda jika bertemu dengan dia?Apa yang anda fikirkan tentang dia? Bagaimana kejadiannya?



C.    Keruntutan Dalam Konseling
Keruntutan merupakan  respon yang diberikan konselor kepada klien yang tepat pada sasaran, tidak menyimpang dari isi pernyataan atau pertanyaan klien. Respon konselor bisa menjadi runtut bila konselor benar-benar memahami isi pembicaraan klien, untuk itu dibutuhkan konsentrasi penuh dan kemampuan konselor dalam menangkap inti pembicaraan klien. Pembicaraan klien yang panjang lebar, mungkin saja intinya hanya satu kata atau satu kalimat. Konselor tidak boleh terbawa arus dengan pembicaraan klien yang panjang lebar, yang sebenarnya tidak  terkait dengan masalah yang sebenarnya. Disini dibutuhkan kepekaan  konselor dalam menanggapi perilaku klien. Konselor tidak boleh lengah sedikitpun memperhatikan dan mendengarkan klien. Jika konselor tidak mampu menangkap inti pembicaraan klien, maka akan terjadi peloncatan respon dari konselor dan akan terjadi pula respon yang tidak tepat bahkan bias terjadi pula respon yang tidak positif. Hal ini tentunya membawa dampak yang tidak baik, lebih jauh dari itu  justru tidak tergalinya masalah klien yang pada gilirannya masalah tidak terpecahkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar